Selamat datang di MailCantik.blogspot.com, terima kasih atas kunjunganya dan jangan sungkan untuk kembali lagi
,
Wednesday, November 16, 2005
Menguji keaslian suatu foto
Untuk menguji keaslian suatu foto. Tentu begitu banyak teknik-teknik lain yang bisa untuk membuktikan keaslian suatu foto. Dan sebaliknya, tentu saja akan lebih banyak lagi kiat-kiat untuk berkelit dan menyangkal keaslian suatu foto.

Tetapi setidaknya, tips ini akan dapat menjadi bekal pertama untuk (belajar) menjadi seorang analis foto

Peralatan yang dibutuhkan: komputer dan program Adobe Photoshop. Akan lebih baik jika menggunakan monitor dengan standar profesional (beresolusi cukup tinggi - Red.)

Cara mengetahuinya:

1. Perbedaan resolusi. Biasanya foto yang difoto secara profesional memiliki resolusi 255 ppi, sedangkan yang diambil dengan kamera digital biasa (non-pro) adalah 72 ppi. Bila dua foto (yang diambil dengan menggunakan alat yang berbeda kualitasnya) digabung menjadi satu, kemudian di save ke 72 ppi (dengan jpg format internet), lalu dikonversikan kembali ke 255 ppi dengan Photoshop dan di-zoom sebesar-besarnya, maka perbedaan pixelnya akan terlihat.

2. Perbedaan warna dan skin tone. Perbedaan warna wajah dengan tubuh tidak selamanya menandakan sebuah foto itu hasil rekayasa. Bahkan sangat normal bila terdapat perbedaan warna kulit wajah dengan tangan atau bagian tubuh lain. Ini dikarenakan perbedaan kehalusan dan bulu pori-pori pada wajah dengan yang lainnya hingga mempengaruhi pantulan cahaya.

Jadi perbedaan warna yang dimaksudkan disini adalah bukan cuma warna, melainkan tonase, termasuk titik terang dan titik gelap. Bila kita menemukan sebuah foto yang mencurigakan, coba atur 'brightness' monitor sampai maksimum dan 'contrast' sampai minimum. Kemudian lihat apakah terjadi perbedaan mencolok antara wajah dengan tubuh. Cara lain, buka dengan Photoshop dan gunakan filter HSB. Geser 'slider' H dan S sampai kandas ke kanan. Biasanya akan langsung ketahuan perbedaannya jika dua gambar atau lebih dijadikan satu.

3. Grain dan noise. Umumnya foto baik yang digital atau hasil scan, memiliki noise terutama pada daerah shadow (gelap). Noise atau grain ini timbul karena bit info tidak tertangkap kamera, sehingga software kamera mengkompensasi secara digital, umumnya secara interpolasi. Kamera yang berbeda tentu menghasilkan kompensasi yang berbeda. Untuk melihat dengan jelas, perhatikan foto pada channel masing-masing (RGB atau CMY). Biasanya yang kentara terjadi perbedaan jika foto merupakan suatu tempelan adalah di channel G (hijau) dan B (biru).

4. Cari sambungan. Bila sebuah foto dicangkok kedalam sebuah foto yang lain, tentu ada daerah sambungan. Ini efektif untuk gambar 'fake' hasil kerjaan orang-orang pemula. Biasanya foto yang di-fake dengan teknik tinggi sangat sulit mencari sambungannya karena kecanggihan Photoshop yang bisa menyamarkan sambungan sampai 255 step. Namun begitu, sering kali seorang ahli akan membuat kelalaian, misalnya pada daerah rambut, sambungan dagu, leher, dan sebagainya.

5. Perhatian: metadata yang merupakan embeded profile pada sebuah foto digital tidak pernah membuktikan kalau foto itu asli atau tidak. Kecuali kalau file foto itu berbentuk RAW (misalnya berekstension .nef untuk Nikon atau .dcr untuk Kodak )
posted by kangmasanom @ 12:49 PM   |
About
Kangmasanom sekarang telah menjadiseorang ayah dan saat ini masih tinggal di Pnk

Mau chating dengan kangmasanom yach mau chatting ya kangmasanom
Acak-acak
Artikel Terbaru
Archives
Shoutbox

Holly Qur'an

Deteksi
Ada online

eXTReMe Tracker miniscu Center