Selamat datang di MailCantik.blogspot.com, terima kasih atas kunjunganya dan jangan sungkan untuk kembali lagi
,
Monday, August 30, 2004
perceraian

Seandainya ini sebuah perceraian


Lebih tiga tahun yang lalu kita mulai semuanya. Kita bangun sebuah rumah untuk membesarkan anak-anak kita. Layaknya sebuah keluarga baru, harapan-harapan indah membentang di depan. Kita akan menjadi keluarga yang terbaik, menjadi contoh bagi yang lain, hidup dalam kasih sayang, saling membantu, saling percaya.

Tak ada satu pun yang sempurna, apalagi ini keluarga baru, kita semua belum berpengalaman. Tapi dalam kasih sayang, dalam niat baik, rasanya tak ada tantangan yang tak akan teratasi, insyaAllah. Waktu itu begitu yakinnya diri, bersama kita pasti berhasil. Kalau ada yang sulit kita tanggung bersama.

Di awal-awal itu, aku begitu ingin terlibat mengasuh anak-anak, dan kau katakan: jangan campuri dulu, kita masih baru berjalan, biarkan aku lakukan sendiri. Aku mengangguk, yah kita baru mulai, barangkali setiap orang diantara kita pun masih gamang. Bukan aku lebih pandai, tapi itu anak-anakku,aku ingin terlibat, atau sekedar ingin tahu bagaimana dan apa yang kau ajarkan pada anakku. Atau barangkali ada ide-ideku yang bisa terpakai.Bagaimanapun itu anak-anakku juga, yang saat-saat tak bersamamu, mereka bersamaku, melewatkan waktunya denganku. Anak-anak yang kuantarkan ke tempat tidurnya tiap malam. Kau mengenal mereka, dan aku juga mengenal mereka.

Rumah kita bertambah bagus dan besar. Tiap bulan aku membayar uang sebesar yang kau minta. Lalu bulan ini kau meminta, astghfirullah, hampir dua kali lipat biasanya. Aku bertanya mengapa begitu besar. Kau katakan bahwa semua harga naik dan banyak hal yang akan kau lakukan demi meningkatkan mutu pendidikan anak-anak kita. Kau menunjukkan rencanamu ke depan. Ada hal yang akan aku pertanyakan, tapi waktu berbincang yang kau janjikan tak pernah jadi kau sediakan. Aku bertanya bolehkah aku melihat catatan keuangan kita
agar dapat melihat pola pengeluaran keluarga kita. Barangkali ada hal-hal yang bisa dilakukan agar biaya tak usah semahal itu. Mungkin kalau kita duduk bersama membicarakannya, kita menemukan solusi-solusi bagus yang lebih hemat tanpa mengorbankan mutu pendidikan anak-anak.

Entah mengapa susah benar aku mendapatkan catatan itu. Kau tak bersedia membuka diri. Apa yang menghalangi dirimu untuk membuka diri? Bukankah keluarga ini kita bangun untuk anak-anak dengan tulus dan ikhlas. Ah barangkali catatanmu agak kacau sehingga banyak yang tak tercatat. Tak mengapa, barangkali aku bisa membantu agar besok-besok catatan kita lebih baik dan dapat dipakai sebagai landasan perencanaan yang lebih baik. Tak sebersitpun dalam hatiku terpikir bahwa kau tak jujur atau ada yang kau selewengkan. Tapi kau berkukuh tak mau terbuka. Kau banting pintu di depan mukaku. Hatiku terluka. Kau merasa bahwa kalau kau menerima usul-usulku, maka pendidikan anak-anak kita tak akan lagi sebaik yang kau inginkan.

Bukan aku tak percaya padamu, dan aku sayang padamu. Aku tak ingin beban itu kau tanggung sendiri, dan aku percaya dengan menyatukan kepala, kita akan lebih berhasil. Bukankah Rasulullah dan Al Qur'an selalu mendorong kita untuk mengutamakna musyawarah? Tak pernahkah kau berpikir bahwa aku ingin keluarga ini berhasil karena itu aku tak akan menjatuhkanmu, bahkan ingin membantumu?

Tak sejenakpun terpikirkan olehku untuk merusak segala usaha
yang telah kita lakukan, karena ini kita lakukan untuk anak-anak yang kita cintai. Jika kau ingin yang terbaik untuk mereka, apalagi aku. Mereka buah hatiku yang sembilan bulan kutunggu hadirnya dengan harap cemas.

Lalu hari itu kau bukakan semuanya padaku, bahwa untukmu, hubungan kita adalah hubungan penjual dan pembeli. Kau menyediakan jasamu, dan aku membelinya. Dan jasa itu mahal karena harga memang mahal dan kau melibatkan ahli-ahli yang tentu juga mahal untuk mendidik anak-anak kita. Rumah yang kita bangun serasa runtuh menimpaku. Hatiku terberai di pelataran rumah yang keras. Bahkan masukpun aku merasa seperti orang asing di rumah yang ikut aku bangun dengan tetesan keringatku. Rumah, yang dulu mendatangkan begitu banyak kebahagiaan karena aku merasa berada dalam keluarga yang hangat dan penuh kasih, kini terasa dingin. Ini hanya sebuah tempat dimana anak-anakku dididik, dengan konsep dan pengelolaan yang sepenuhnya tak boleh aku campuri, yang harus aku bayar berapa pun aku diminta.

Kalau aku kembali ke masa di belakang, aku seharusnya memperhatikan perasaan terganggu yang datang berulang-ulang karena beberapa caramu menangani beberapa persoalan. Tapi aku selalu menepiskan. Untukku itu cuma karena kita semua masih belajar berkomunikasi. Dan komunikasi bukan perkara mudah. Aku yang pernah belajarpun, tak kunjung mahir. Lagi pula keluarga kita masih baru. Ini pengalaman baru.

Semua yang pernah terjadi menjadi jelas. Dimana pula pemilik restoran yang bersedia pelanggannya ikut memasak di dapur, atau ikut mengatur keuangannya,atau ikut mengurus bagaimana agar ongkos bisa ditekan? Pembeli cukup membayar harga yang tampil di bon, untuk menu dan pelayanan yang dibanggakan sang pemilik. Aku berhadapan dengan koki yang bangga dalam menciptakan karya sesempurna-sempurnanya. Harga tak jadi masalah karena semua bisa dibebankan pada konsumen. Sayangnya, ini bukan restoran yang bisa kutinggalkan dan tak perlu kudatangi lagi kalau menu atau harganya tak cocok, atau kalau
pengelolanya pongah.

Anak-anak terlanjur tumbuh di rumah ini dan mencintai
tiap sudut-sudutnya. Aku tak sanggup menghancurkan perasaan mereka. Jadi aku akan terus membayar sampai mereka cukup besar untuk kubawa pergi dari sini.

Aku mirip konsumen yang tersandera.Hari kau jatuhkan bom itu, aku bukan cuma seperti kekasih yang merasa kasih tak sampai. Itu terlalu ringan. Sakit yang kurasa melebih sebuah perceraian. Sedetik yang lalu aku masih punya keluarga, yang bagaimanapun bermasalahnya tetaplah keluargaku; tiba-tiba aku terbanting ke dalam kenyataan; keluarga penuh kasih itu cuma ilusiku.

Sekarang, setiap kali kumasuki halaman rumah kita, tak ada lagi kehangatan yang dulu selalu menyerbu merangkul sanubariku. Cuma dingin dan gersang.Pohon-pohon rindang di halaman kita tak lagi memberi kesejukan. Kalau dulu,setiap kali aku merasa suntuk, semua menjadi cerah kembali begitu aku menginjak halaman kita. Sekarang semuanya hilang. Ada rasa marah karena sebuah keluarga serasa terenggut dariku, sebuah kebahagiaan dirampas dari haribaku.

Aku tak bisa melupakan wajahmu dan gaya bicaramu yang begitu
businesslike. Ah, demi apa kau lakukan ini? Apa yang kau cari, yang begitu berharga sehingga kehangatan ini tak ada artinya bagimu?

posted by kangmasanom @ 8:02 PM   |
About
Kangmasanom sekarang telah menjadiseorang ayah dan saat ini masih tinggal di Pnk

Mau chating dengan kangmasanom yach mau chatting ya kangmasanom
Acak-acak
Artikel Terbaru
Archives
Shoutbox

Holly Qur'an

Deteksi
Ada online

eXTReMe Tracker miniscu Center