Selamat datang di MailCantik.blogspot.com, terima kasih atas kunjunganya dan jangan sungkan untuk kembali lagi
,
Tuesday, August 31, 2004
penuh perhatian

Suami yang penuh perhatian

Apa yang memberatkanmu para suami!
untuk bermuka cerah di depan isterimu ketika masuk rumah, agar engkau mendapat pahala dari Allah?!!Apakah berat bagimu jika engkau melemparkan senyuman kepada isteri dan anak-anakmu?!!Apakah mengurangi kewibawaanmu wahai hamba Allah! bila engkau mengecup kening isterimu dan bermain-main dengannya?!!Apakah yang memberatkamny menyuapkan satu suapan makanan ke mulut isterimu, hingga engkau mendapat pahala karenanya?!!

Apakah sulit bila masuk rumah engkau mengucpkan salam dengan sempurna: Assalamu'alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh; hingga engkau mendapatkan 30 kebaikan?!!Mengapa engkau tidak berbicara dengan perkataan yang baik kepada isterimu, meskipun sedikit berbohong agar ia senang?!!

Tanyakanlah tentang isterimu, tanyakanlah keadaannya ketika engkau baru masuk rumah.Aku pikir tidak mengapa dan tidaklah berat bila engkau berkata kepada isterimu:"Wahai kekasihku, sejak aku keluar dari sisimu sedari pagi hingga sekarang, seolah-olah setahun telah berlalu!!"

Sesungguhnya bila engkau mengharapkan pahala -walaupun engkau merasa jemu mendatangi dan mencampurinya- maka engkau mendapat pahala dan ganjaran Allah Ta'ala;karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Dan dalam kemaluanmu ada sedekah."Apakah termasuk suatu kebodohan wahai hamba Allah!bila engkau berdo'a pada Allah seraya berkata:"Ya Allah perbaikilah aku dan isteriku, serta berikanlah keberkahan kepada kami."

Sebuah ucapan yang baik adalah sedekah Wajah berseri dan senyuman adalah sedekah bersalaman sambil mengucapkan salam menghilangkan kesalahan-kesalahan dalam jima' pun ada pahalanya.



posted by kangmasanom @ 11:46 PM   |
Monday, August 30, 2004
perceraian

Seandainya ini sebuah perceraian


Lebih tiga tahun yang lalu kita mulai semuanya. Kita bangun sebuah rumah untuk membesarkan anak-anak kita. Layaknya sebuah keluarga baru, harapan-harapan indah membentang di depan. Kita akan menjadi keluarga yang terbaik, menjadi contoh bagi yang lain, hidup dalam kasih sayang, saling membantu, saling percaya.

Tak ada satu pun yang sempurna, apalagi ini keluarga baru, kita semua belum berpengalaman. Tapi dalam kasih sayang, dalam niat baik, rasanya tak ada tantangan yang tak akan teratasi, insyaAllah. Waktu itu begitu yakinnya diri, bersama kita pasti berhasil. Kalau ada yang sulit kita tanggung bersama.

Di awal-awal itu, aku begitu ingin terlibat mengasuh anak-anak, dan kau katakan: jangan campuri dulu, kita masih baru berjalan, biarkan aku lakukan sendiri. Aku mengangguk, yah kita baru mulai, barangkali setiap orang diantara kita pun masih gamang. Bukan aku lebih pandai, tapi itu anak-anakku,aku ingin terlibat, atau sekedar ingin tahu bagaimana dan apa yang kau ajarkan pada anakku. Atau barangkali ada ide-ideku yang bisa terpakai.Bagaimanapun itu anak-anakku juga, yang saat-saat tak bersamamu, mereka bersamaku, melewatkan waktunya denganku. Anak-anak yang kuantarkan ke tempat tidurnya tiap malam. Kau mengenal mereka, dan aku juga mengenal mereka.

Rumah kita bertambah bagus dan besar. Tiap bulan aku membayar uang sebesar yang kau minta. Lalu bulan ini kau meminta, astghfirullah, hampir dua kali lipat biasanya. Aku bertanya mengapa begitu besar. Kau katakan bahwa semua harga naik dan banyak hal yang akan kau lakukan demi meningkatkan mutu pendidikan anak-anak kita. Kau menunjukkan rencanamu ke depan. Ada hal yang akan aku pertanyakan, tapi waktu berbincang yang kau janjikan tak pernah jadi kau sediakan. Aku bertanya bolehkah aku melihat catatan keuangan kita
agar dapat melihat pola pengeluaran keluarga kita. Barangkali ada hal-hal yang bisa dilakukan agar biaya tak usah semahal itu. Mungkin kalau kita duduk bersama membicarakannya, kita menemukan solusi-solusi bagus yang lebih hemat tanpa mengorbankan mutu pendidikan anak-anak.

Entah mengapa susah benar aku mendapatkan catatan itu. Kau tak bersedia membuka diri. Apa yang menghalangi dirimu untuk membuka diri? Bukankah keluarga ini kita bangun untuk anak-anak dengan tulus dan ikhlas. Ah barangkali catatanmu agak kacau sehingga banyak yang tak tercatat. Tak mengapa, barangkali aku bisa membantu agar besok-besok catatan kita lebih baik dan dapat dipakai sebagai landasan perencanaan yang lebih baik. Tak sebersitpun dalam hatiku terpikir bahwa kau tak jujur atau ada yang kau selewengkan. Tapi kau berkukuh tak mau terbuka. Kau banting pintu di depan mukaku. Hatiku terluka. Kau merasa bahwa kalau kau menerima usul-usulku, maka pendidikan anak-anak kita tak akan lagi sebaik yang kau inginkan.

Bukan aku tak percaya padamu, dan aku sayang padamu. Aku tak ingin beban itu kau tanggung sendiri, dan aku percaya dengan menyatukan kepala, kita akan lebih berhasil. Bukankah Rasulullah dan Al Qur'an selalu mendorong kita untuk mengutamakna musyawarah? Tak pernahkah kau berpikir bahwa aku ingin keluarga ini berhasil karena itu aku tak akan menjatuhkanmu, bahkan ingin membantumu?

Tak sejenakpun terpikirkan olehku untuk merusak segala usaha
yang telah kita lakukan, karena ini kita lakukan untuk anak-anak yang kita cintai. Jika kau ingin yang terbaik untuk mereka, apalagi aku. Mereka buah hatiku yang sembilan bulan kutunggu hadirnya dengan harap cemas.

Lalu hari itu kau bukakan semuanya padaku, bahwa untukmu, hubungan kita adalah hubungan penjual dan pembeli. Kau menyediakan jasamu, dan aku membelinya. Dan jasa itu mahal karena harga memang mahal dan kau melibatkan ahli-ahli yang tentu juga mahal untuk mendidik anak-anak kita. Rumah yang kita bangun serasa runtuh menimpaku. Hatiku terberai di pelataran rumah yang keras. Bahkan masukpun aku merasa seperti orang asing di rumah yang ikut aku bangun dengan tetesan keringatku. Rumah, yang dulu mendatangkan begitu banyak kebahagiaan karena aku merasa berada dalam keluarga yang hangat dan penuh kasih, kini terasa dingin. Ini hanya sebuah tempat dimana anak-anakku dididik, dengan konsep dan pengelolaan yang sepenuhnya tak boleh aku campuri, yang harus aku bayar berapa pun aku diminta.

Kalau aku kembali ke masa di belakang, aku seharusnya memperhatikan perasaan terganggu yang datang berulang-ulang karena beberapa caramu menangani beberapa persoalan. Tapi aku selalu menepiskan. Untukku itu cuma karena kita semua masih belajar berkomunikasi. Dan komunikasi bukan perkara mudah. Aku yang pernah belajarpun, tak kunjung mahir. Lagi pula keluarga kita masih baru. Ini pengalaman baru.

Semua yang pernah terjadi menjadi jelas. Dimana pula pemilik restoran yang bersedia pelanggannya ikut memasak di dapur, atau ikut mengatur keuangannya,atau ikut mengurus bagaimana agar ongkos bisa ditekan? Pembeli cukup membayar harga yang tampil di bon, untuk menu dan pelayanan yang dibanggakan sang pemilik. Aku berhadapan dengan koki yang bangga dalam menciptakan karya sesempurna-sempurnanya. Harga tak jadi masalah karena semua bisa dibebankan pada konsumen. Sayangnya, ini bukan restoran yang bisa kutinggalkan dan tak perlu kudatangi lagi kalau menu atau harganya tak cocok, atau kalau
pengelolanya pongah.

Anak-anak terlanjur tumbuh di rumah ini dan mencintai
tiap sudut-sudutnya. Aku tak sanggup menghancurkan perasaan mereka. Jadi aku akan terus membayar sampai mereka cukup besar untuk kubawa pergi dari sini.

Aku mirip konsumen yang tersandera.Hari kau jatuhkan bom itu, aku bukan cuma seperti kekasih yang merasa kasih tak sampai. Itu terlalu ringan. Sakit yang kurasa melebih sebuah perceraian. Sedetik yang lalu aku masih punya keluarga, yang bagaimanapun bermasalahnya tetaplah keluargaku; tiba-tiba aku terbanting ke dalam kenyataan; keluarga penuh kasih itu cuma ilusiku.

Sekarang, setiap kali kumasuki halaman rumah kita, tak ada lagi kehangatan yang dulu selalu menyerbu merangkul sanubariku. Cuma dingin dan gersang.Pohon-pohon rindang di halaman kita tak lagi memberi kesejukan. Kalau dulu,setiap kali aku merasa suntuk, semua menjadi cerah kembali begitu aku menginjak halaman kita. Sekarang semuanya hilang. Ada rasa marah karena sebuah keluarga serasa terenggut dariku, sebuah kebahagiaan dirampas dari haribaku.

Aku tak bisa melupakan wajahmu dan gaya bicaramu yang begitu
businesslike. Ah, demi apa kau lakukan ini? Apa yang kau cari, yang begitu berharga sehingga kehangatan ini tak ada artinya bagimu?

posted by kangmasanom @ 8:02 PM   |
Sunday, August 29, 2004
bahagia

"Saya hanya ingin bahagia," itu kalimat yang sering kali terdengar saat ditanya apa yang menjadi cita-citanya. Lalu, siapa yang tidak ingin bahagia? Jika seseorang ingin bahagia berarti dia tidak bahagia, lalu, kenapa tidak bahagia?

Mungkin ini jawaban yang mungkin muncul:
"Saya akan bahagia jika berhasil menikah dengan dia."
"Saya akan bahagia jika saya berhasil menduduki jabatan tersebut."
"Bagaimana bisa bahagia jika saya rugi Rp 20 juta?"
"Bagaimana bisa bahagia jika saya baru saja dipecat?"
dan masih banyak kalimat yang mungkin muncul.

Jika kita ingin bahagia, tengoklah apa yang telah kita miliki, rasakan berbagai anugrah yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Sungguh, sungguh banyak. Kita tidak akan bisa menghitungnya.

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar- benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS.An Nahl:18)

Seberapa banyak nikmat yang kita miliki dibanding dengan yang belum kita miliki? Pantaskah kita tidak bahagia untuk nikmat yang belum kita miliki itu? Oleh karena itu, bersyukurlah dengan apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Berbahagialah.





posted by kangmasanom @ 1:18 AM   |
Saturday, August 28, 2004
malas


MALASNYA AKU

Tidak seperti biasanya,.....
Untuk kali ini, aku begitu malas,........
Tapi aku bukan seorang yang pemalas.

Aku merasa bahagia memiliki ini semua,.......
teman, sahabat,adek, kakak, dll...
yang bisa membuatku tersenyum,.....
Bisa merasa bahagia manakala seseorang yang membaca tulisankku tersenyum.

Entah apalagi yang harus kutuliskan,hari ini........

walaupun kita jauh,......
tapi CINTA akan selalu mempertemukan kita,....
karena kita semua ada karena cinta.
Cuma terkadang orang masih mencari cinta,
walau sebenarnya dia sudah memilikinya,......
atau kalo sudah merasa memiliki cinta,
tidak mau lagi cintanya terbagi.

Padahal dengan kita berbagi cinta,.....
dunia ini Insya Allah akan damai dan tenang,........ Amin.
Jangan hanya karena ego,.......
kita menjadi pelit untuk berbagi cinta..........



posted by kangmasanom @ 3:43 AM   |
Friday, August 27, 2004
kegagalan

Menerima Kegagalan Tanpa Sakit Hati

Menerima kekalahan dan kegagalan diri sendiri memang tidak mudah. Umumnya, kekalahan dihadapi dengan sikap down, stres, bahkan depresi.
Padahal sikap tersebut justru akan memperburuk kegagalan. Pada dasarnya kesulitan menerima kegagalan adalah karena kita juga sulit mengakui kesuksesan orang lain. Ada perasaan kecut ketika mendengar kemenangan orang lain. Sehingga, kondisi ini akan semakin membuat mental anda down.

Lalu bagaimana dengan anda sendiri? Bisakah anda menerima kegagalan tanpa rasa sakit hati dan putus asa? Daripada terus meratapi kegagalan, lebih baik anda belajar berbesar hati dalam menerima kekalahan. Caranya? Coba ikuti saran di bawah ini:

- Menerima kenyataan
Jangan terjebak pada perasaan marah dan kesal mendengar keberhasilan orang lain. Anda harus menyadari bahwa sikap demikian hanya karena anda tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang lain lebih baik dari anda. Lebih baik pelajari penyebab kegagalan anda kemudian berusahalah untuk memperbaikinya.

- Berpikir positif
Walaupun anda sedang mengalami kekalahan, cobalah untuk berpikir jernih. Pikiran negatif dan prasangka buruk terhadap orang lain akan menyerap energi dan ini sangat melelahkan fisik serta mental anda. Dengan pikiran yang lebih jernih, langkah anda terasa lebih ringan untuk menebus kekalahan.

- Cari masukan
Cobalah untuk menilai kelemahan diri sendiri. Kemudian mintalah masukan dari rekan-rekan yang biasa bekerjasama dengan anda. Kalau perlu minta juga pendapat dan masukan dari bos tentang kinerja anda selama ini. Jika masukan tersebut baik bagi perkembangan diri anda tentu anda bisa mempraktekkannya kan?

- Perbaiki aspek negatif
Sadarilah hal-hal negatif yang menghambat karir anda. Jika anda sudah menyadarinya maka perbaikilah atau tekan seminimal mungkin aspek negatif tersebut. Sebaliknya, kembangkan dan tingkatkan terus aspek positif pada diri anda.

- Hargai orang lain
Menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebenarnya juga merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Dengan demikian
akan tumbuh sikap positif dimana anda bisa lebih memahami kelebihan orang lain dan menerima kekalahan diri sendiri.

Jangan lupa gagal bukan berarti kiamat. Kegagalan hanyalah sebuah proses untuk mencapai kesuksesan. Asal anda berusaha keras untuk mencapai kesuksesan yang anda idamkan, kegagalan nggak akan mampir dalam hidup anda.




posted by kangmasanom @ 3:57 AM   |
Thursday, August 26, 2004
istriku

Sari tauladan

Istriku

Aku takkan pernah bisa memahami istriku.
Begitu kami tinggal serumah, ia mulai memeriksa lemari-lemari dapurku, dan ia tampak kaget.Kau tidak punya kertas alas untuk rak!.. Kita mesti beli kertas alas dulu sebelum aku memindahkan barang-barang pecah belahku ke sini.Untuk apa kertas alas?... tanyaku tak mengerti.Supaya pecah belahnya tetap bersih,sahutnya tegas. Aku tidak mengerti bagaimana debu bisa otomatis tidak hinggap lagi di pecah belah yang dialasi kertas biru yang lengket itu. Tapi aku tahu sebaiknya aku diam saja.

Lalu suatu hari aku lupa menurunkan tutup toilet.Dalam keluargaku tutup toilet tidak pernah dibiarkan terbuka,omel istriku. Tidak sopan.Dalam keluargaku yang seperti itu tidak dianggap tidak sopan, kataku malu-malu...Keluargamu kan tidak punya kucing.

Selain itu, aku belajar cara memencet tube pasta gigi, handuk mana yang boleh dipakai sesudah mandi, dan di mana mesti meletakkan sendok- sendok kalau aku yang menata meja. Tak kukira diriku begitu tidak beradab.

Ya, aku tidak akan pernah bisa memahami istriku.Ia memberi label menurut abjad pada stoples-stoples bumbunya, mencuci piring-mangkuk sebelum memasukkan semuanya ke mesin pencuci piring, dan memilah-milah cucian kotor ke dalam beberapa tumpukan sebelum memasukkannya ke mesin cuci. Nah, bisa Anda bayangkan? Ia memakai piama kalau tidur.

Kupikir di Amerika Utara sudah tidak ada lagi orang yang memakai piama untuk tidur. Ia juga mempunyai sebuah mantel yang membuat ia tampak sepertiSherlock Holmes.Aku bisa membelikanmu mantel baru,aku menawarkan.Tidak. Mantel ini warisan dari nenekku,sahutnya tegas, mengakhiri percakapan.

Sesudah kami punya anak-anak, tingkahnya jadi semakin aneh. Ia memakai piama sepanjang hari, sarapan pada pukul satu tengah hari, selalu membawa tas popok seukuran minivan, dan bicaranya pun pendek-pendek.

Ia menggendong bayi kami ke mana-mana - di punggung, di depan, di pelukannya, disandarkan di bahunya. Ia tak pernah meletakkan bayi kami, hingga ibu-ibu lain geleng-geleng kepala melihatnya, sebab mereka biasanya menaruh bayi di dalam boks, atau di kursi khusus kalau di dalam mobil. Betapa anehnya istriku, selalu menggendong- gendong bayi kami. Ia juga memilih untuk menyusui sendiri anak itu, meski teman-temannya mengatakan itu tidak perlu. Kalau bayi kami menangis, ia selalu menggendongnya, walaupun orang-orang mengatakan menangis itu baik untuk bayi.Bagus untuk paru-parunya kalau ia menangis,kata mereka.Lebih bagus lagi kalau hatinya tersenyum,..sahut istriku.

Suatu hari seorang temanku tertawa sinis melihat stiker yang ditempelkan istriku di bagian belakang mobil kami. Tulisan di stiker itu berbunyi: Menjadi Ibu yang Tinggal di Rumah Merupakan Pekerjaan yang Membutuhkan Kasih Sayang.Pasti istriku yang menempelkannya di situ,kataku.Istriku wanita karier,temanku membanggakan istrinya.Istriku juga,..sahutku dengan tersenyum.

Suatu kali, aku mesti mengisi kartu-kartu untuk jaminan. Kuberi tanda silang di kotak ,Ibu Rumah Tangga...untuk menunjukkan pekerjaan istriku. Ternyata aku salah besar. Begitu melihatnya, istriku langsung mengoreksi. Aku bukan ibu rumah tangga, juga bukan seorang istri... Aku ini seorang ibu...Tapi tidak ada kategori itu di situ,kataku agak gugup.Tambahkan saja,katanya.Maka aku pun menambahkannya.

Lalu, suatu hari, beberapa tahun kemudian, kulihat ia berbaring dengan tersenyum di tempat tidur,ketika aku akan berangkat bekerja.
Ada apa?... tanyaku.Tidak ada apa-apa. Segalanya menyenangkan. Semalam aku tidak perlu bangun sama sekali untuk menenangkan anak-anak. Dan mereka juga tidak minta tidur bersama kita.Oh..kataku, masih belum mengerti. Baru kali ini aku bisa tidur nyenyak sepanjang malam, setelah empat tahun.Masa? Empat tahun? Lama sekali. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Kenapa ia tidak pernah mengeluh? Kalau aku pasti sudah mengeluh.

Suatu hari, secara tak sengaja aku mengucapkan sesuatu yang membuat ia lari ke kamarnya dan menangis. Aku menyusulnya untuk minta maaf.

Ia tahu permintaan maafku tulus, sebab pada saat aku mengatakannya aku juga menangis.Aku memaafkanmu, katanya. Dan Anda tahu? Ia benar-benar memaafkanku. Ia tak pernah mengungkit-ungkit hal itu lagi. Tidak juga ketika ia sedang marah. Padahal bisa saja ia memakai itu sebagai senjata. Ia memaafkanku dan melupakan yang sudah lalu.

Tidak, aku tidak akan pernah bisa memahami istriku. Dan Anda tahu? Semakin lama kelakuan anak perempuan kami semakin mirip dengan ibunya. Kalau kelak ia menjadi seperti ibunya, suatu hari nanti akan ada satu lagi pria yang beruntung di dunia, bersyukur ada yang menaruh kertas alas di dalam rak-raknya.





posted by kangmasanom @ 4:57 AM   |
Wednesday, August 25, 2004
aids

DEMI UANG,HIV/AIDS TAK DIPIKIRKAN

Ini sekelumit ungkapan hati seorang psk dalam penyuluhan bahaya HIV?AIDS.Mereka kerap di cemooh dan dianggap rendah,BAhkan,tak jarang dengan alasan penertiban,mereka di buru dan di perlakukan kasar.Namun,cemoohan dan perlakuan kasar itu tak cukup menjadi alasan bagi mereka berhenti untuk menjalankan profesinya.Ada kemiskinan yang harus mereka dobrak.Demi uang dan hidup,pikiran tertular HIV/AIDS bahkan tak sampe benak mereka.

Tentunya kita sebagai negara yang merdeka juga berahlak dan beragama setiap indifidu,mungkin begitu banyak yang membencinya sebenarnya yang kita benci profesi mereka.Tapi sampai saat ini mereka tetep dibiarkan tanpa kita ikut memikirkan mengatasi agar profesi mereka hilang di muka bangsa ini.Ayoo siapa berani dan punya solusi yang tepat?

posted by kangmasanom @ 6:52 AM   |
Tuesday, August 24, 2004
cobaoy

COBOY OR RAMBO

Wah kayak di film aja....Parto patrio,cuma ingin keluar dari krumunan wartawan main tembak...Ada lagi seorang pewira Letnan satu CPM,Fredrick Situmorang,menembak mati empat prajurit serta melukai satu orang temannya sendiri.

Wah kalau setiap orang punya senjata api bisa bisa koboy-kobay berjingkrakan,tak peduli anak,istri,suami,orang tua,saudara,teman apa lagi musuhnya,pokoknya tembakkkk....



posted by kangmasanom @ 11:06 PM   |
Monday, August 23, 2004
duduk

Aku duduk sendiri di depan teras kamarku..
kubiarkan hujan yang turun tempiasnya percik basahi tubuhku
Ada rasa damai dan bahagia setelah percakapan semalam bersama Bunda
aku bagai mempunyai kekuatan baru
kekuatan yang hampir hilang pada diriku
kejadian demi kejadian yang sangat membingungkan,mengusik hatiku,membuat resah hari hariku
rasa kasih sayang yang kuat dan cinta yang dalam
membuat semua rintangan bisa kulewati walau harus korbankan hati.
kini satu langkah baru akan kulalui..dengan keyakinan hati dan keteguhan tak peduli seribu cerca menghampiri,seribu tanya mewarnai
yangku tahu cinta butuh suatu keyakinan dan cinta butuh keteguhan dalam meraungi setiap kepedihan, agar hati tetap menyatu dalam cinta terus manyatu menerjang resah dan bimbang


posted by kangmasanom @ 1:14 AM   |
Sunday, August 22, 2004
lelah


Lelah
aku terlalu lelah
bagaimana bisa mengartikan kata
setiap gerak langkahmu yang selalu berubah
bila ku kedepan kamu lari kebelakang
bila ku diam kamu bagai kilat menyambar sudah di depan
kenapa?
tak seiring saja,kedepan,diam,atau kebelakang
satukan langkah,satukan arah,memupuk tujuan

ach... tak mungkin..bila sifat angin selalu menguasaimu
ku tak tahu apa yang akan kau hembusan
sebuah tiupan mesra...ehm....
apa topan badai yang siap mengulung.meluluh lantakan,
menghancurkan apa saja.
aku sudah letih
lebih baik ku diam
merapal doa,menanti keajaiban
kucuma ingin angin surga

posted by kangmasanom @ 3:04 AM   |
Saturday, August 21, 2004
acara tv
surat terbuka buat Aa gym (copy paste milis)

Jakarta, 14 Agustus 2004

Assalamualaikum WrWb

Bismillahhirrahmanirrahim,

Aa, Ananda ingin menyampaikan sesuatu buat Aa.nama nanda, Shafa. Nama lengkapnya, Hanifah Shafa Nugrahtuti (anak ayah Nugroho dan bunda Astuti). Nanda sekarang berumur 4 tahun, sekolah di TK AnNur Cikarang Baru.Aa, Shafa sering lihat acara sinetron di TV. tapi ayah sering tidak senang kalau shafa menontonnya. Kata ayah, beberapa sinetron itu nggak baik, biar itu buat orang gede, apalagi buat anak kecil.alasan ayah, sinetronnya banyak orang berantem yang ngomongnya jelek -jelek.

Ayah takut nanti Shafa nggak tahu kalau mereka itu ngomong jelek, jadi Shafa ikut ngomong seperti mereka.Kata ayah, nggak boleh mereka itu cium - ciuman orang laki - laki danperempuan, karena mereka tidak seperti ayah sama bunda. Ayah bilang,sinetron itu ngajarin orang berebut kesenangan dunia, jadi lupa di akhirat nanti. Biar punya duit banyak, biar terkenal, biar punya kedudukan, mereka pakai semua cara, juga cara - cara yang nggak baik.Ayah bilang, kalau shafa pengin masuk surga, jangan seperti yang di cerita sinetron itu. Jadi yah.. jangan nonton saja.Tapi Aa, Shafa bingung, kalau sinetron itu nggak baik, kenapa boleh ada di TV ?Aa, shafa bisa berjoged dengan bergoyang pinggul seperti yang ada di TV.

Temen - temen sekolah shafa juga ada yang bisa berjoget seperti itu. ayah sama bunda kadang tersenyum lihat shafa berjoged, tapi kadang seperti mau sedih. Terus ayah bilang, ya.. shafa sekarang boleh deh joged seperti itu, tapi nanti kalau sudah besar, nggak boleh yah.. Kenapa ayah ? karena berjoged seperti itu nggak baik, ..nak. kata ayah begitu Aa.Aa, Shafa bingung lagi nih, kalau berjoged seperti itu nggak baik, kenapa tante inul, tante annisa bahar, dan tante - tante yang lain, sering sekali ada di TV. Aa, ayah bilang, ayah pernah baca, kalau di negara tetangga kita Malaysia, acara TVnya bagus - bagus. Ada "who will become an ustadz", ada Akademi Islamiah, ada Muslim idol, ada RTM(remaja tahu mengaji).

Shafa jadi inget acara TV di Indonesia, Akademi Fantasi dan Indonesian idol. Kira - kira lebih bagus mana acaranya yah Aa ?Aa, Ayah bilang, kita semua akan bahagia kalau saja di Indonesia ada TV islami. insyaAllah nanti acaranya bagus - bagus ya Aa. InsyaAllah, nanti yang nyanyi dan mengisi acara di TV juga pakaiannya sopan, seperti tante Neno warisman, tante astri ivo, tante novia kolopaking, tante anneke putri, tante ratih sanggarwati, tante inneke,... wah mereka cantik cantik sekali yah Aa. InsyaAllah nanti tante inul, tante annisa bahar, tante krisdayanti, tante reza ikutan pakai pakaian yang sopan dan penampilan yang anggun. wah... indah sekali TV indonesia kalau begitu yah Aa.Terus iklan yang masuk, pasti juga bagus bagus.Terus.. Aa juga pasti lebih sering ada di TV itu.. subhanallah. Mudah - mudahan mimpi kami terwujud. amin.Aa bilang dong, sama TV TV yang ada sekarang, mereka ada nggak yang mau jadi TV islami.

Aa, jangan bosen yah, surat shafa panjang. Ada satu lagi Aa. tadi pagi Ayah lagi bicara sama bunda, sambil seperti mau marah. ayah bilang, ada film baru yang judulnya saja sudah ngajak orang berzina. katanya judulnya "Buruan cium gue".Shafa tanya sama ayah, emang orang gede nggak boleh minta cium ya ayah ? kata ayah, boleh kalau dengan mukhrimnya. kalau bukan .. yah namanya zina.Sekali lagi Shafa bingung Aa, kalau judulnya saja sudah nggak baik, kenapa boleh ada di bioskop yah Aa. Yah.., sekarang banyak yang bikin Shafa bingung.

Aa pimpin doa, yah, mudah - mudahan Indonesia nanti dapet pemimpin yang tidak bikin anak kecil seperti Shafa bingung.Tapi Aa, kalau Shafa kan masih kecil, jadi boleh kan minta dicium Aa.Kalau begitu " AA....BURUAN CIUM SHAFA...."

Wassalamualaikum WrWb.

Hanifah Shafa Nugrahtuti
Jl. Puspita Blok S no 14,Gylsemium,
Kota Hijau CikarangBaru,
Cikarang,

Note:
Afwan AaGymsaya menulis surat atas nama anak saya.Tentu saja, shafa kecil belum mampu bertutur seperti surat di atas, tapi saya yakin, kalau dia sudah mengerti, InsyaAllah hatinya juga akan miris seperti ayah dan bundanya, yang setiap hari melihat kemaksiatan dipertontonkan. Mohon bimbing bangsa ini agar menjadi bangsa yang beradab. amin.

Ananto N Nugroho

posted by kangmasanom @ 4:01 AM   |
Friday, August 20, 2004
perlombaan

Hidup Bukanlah Suatu Perlombaan

Seorang ibu duduk disamping seorang pria dibangku dekat Taman-Main CJ , pada suatu minggu pagi yang indah cerah. "Tuh.., itu putraku yang disitu", katanya, sambil menunjuk kearah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan.

"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak itu. "Yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itulah anakku", sambungnya. Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?" Jack, setengah memelas, "Kalau lima menit lagi, boleh yahhh, sebentar lagi, ayah, boleh kan?". "Cuma tambah lima menit kok, yaaa...?". Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan memuaskan hatinya.

Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. "Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?". Lagi-lagi Jack memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya?". Pria itu bersenyum dan bilang, "OK lah, iyalah..."

"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar", ibu itu menanggapinya. Pria itu tersenyum, lalu berkata, "Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda dekat-dekat sini. Oleh sopir mabuk. Aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John, sekarang apapun ingin kuberikan demi dan asal saja saya bisa bersamanya biarpun hanya untuk lima menit lagi. Aku bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain".

Hidup ini bukanlah suatu perlombaan. Hidup ialah masalah membuat prioritas. Prioritas apa yang anda miliki saat ini?. Berikanlah pada seseorang yang kau kasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya.
posted by kangmasanom @ 3:47 AM   |
Thursday, August 19, 2004
doa ukhti
file dipindahkan (enter)
posted by kangmasanom @ 11:13 PM   |
Wednesday, August 18, 2004
surat simpati



surat buat seseorang:

Tuhan dulu pernah

Aku menagih simpati

Kepada manusia

Yang Alpa jua buta

Lalu terhiritlah

Aku di lorong gelisah

Luka hati yang berdarah

Kini jadi kian parah ....



Perjalanan menuju sebuah titik balik kadang tak pernah bisa kita rancang dan duga. Begitu cepat dan diluar perhitungan.

Tidak ada sisi kehidupan seseorang yang salah. Yang keliru hanyalah cara menyikapi tiap episodenya. Termasuk ketika getar-getar hati tiba-tiba menyapa ...,

Kumpulan idealisme, cita-cita dan rancangan hidup seakan menjadi hilang nilai logisnya ketika hasrat hati yang tak terkendali perlahan-lahan menguasai diri. Ada energi lebih disana, tapi pula tak dangkal jurang berbahaya yang ada. Sekali lagi, tak ada yang salah dari kehidupan, yang seringkali keliru adalah cara kita mensikapi tiap kejadiannya.

Kebutuhan untuk memiliki teman bercerita, sahabat berbagi, kawan pelipur lara adalah kebutuhan manusiawi setiap naluri makhluk yang tercipta di muka bumi ini. Tanpanya, yang ada hanyalah kehampaan dan kerinduan yang tak berujung.

Keinginan memiliki, melindungi dan menyayangi adalah sebuah kaidah wajar di setiap perjalanan hati seseorang. Bahkan cemburu, sakit, kecewa karenanya pun adalah hukum alam yang sudah tertulis semenjak zaman azali.

Sekali lagi, tak ada yang salah dari tiap sisi kehidupan, yang acapkali lemah adalah kemampuan kita ketika mengambil sikap dalam adegan-adegan itu.

Kita lemah, bahkan sangat lemah untuk bisa memahami hati ini.
Tidak ada jaminan cinta yang ada hari ini, tetap akan bersemi esok hari, hingga benarlah apa yang disampaikan kekasih Allah, “Cintai orang yang engkau cinta sewajarnya saja, karena mungkin ada sisi benci nantinya, dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja, karena mungkin nanti tumbuh sayangmu padanya.

Tiap kita tentu mendambakan kesempatan untuk bisa memilih. Dan merupakan sunatullah jika pilihan kita jatuh pada hal-hal yang indah. Tapi ingatlah pula, bahwa tidak ada yang salah dari kehidupan, melainkan kelirunya kita mensikapinya.

Pilihan yang paling tepat adalah pilihan yang mampu menenangkan, tetapi memilih yang menenangkan jauh lebih sulit daripada memilih yang indah.

Pilihan yang menenangkan adalah pilihan yang diikuti kemampuan untuk memahami, kemampuan untuk berbagi, kemampuan untuk memaafkan. dan kemampuan untuk setia

Tak ada sisi diri kita yang sempurna, dan dia butuh sisi lain yang bisa memahaminya, dia butuh sisi lain yang bisa menjadi tempatnya berbagi, dia butuh sisi lain yang mampu memaafkan kekeliruan-kekeliruannya, dan dia pula butuh sisi lain yang mampu untuk tetap setia padanya.

Jika sisi itu ada, maka tak ada status yang lebih tinggi, tak ada pula idealisme yang buta, tak ada pula cita-cita yang egois dan tak ada pula target-target hidup yang tak bisa dicapai bersama.



Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia ciptakan istri-istri dari kalanganmu sendiri, agar engkau cenderung dan merasa tenteram padanya. Dia ciptakan rasa kasih dan sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda yang besar, bagi kaum yang berfikir

(Quran)
Jika sisi itu nanti ada Pada kita ...
Saat itu
Biarkan Aku Jatuh Cinta Padamu.)



posted by kangmasanom @ 12:31 AM   |
Tuesday, August 17, 2004
surat buat nur

surat buat NUR

Selembar surat bersampul biru muda jatuh di pangkuan Nur. Saat itu senja merona bersemburat cahaya jingga di ufuk barat. Sekelompok burung pipit terbang melintasi anjungan. Angin semilir meniup kelopak flamboyan, mahkotanya berhamburan mencium bumi.

Dulu, Nur paling benci bila dikatakan bagai flamboyan. Pohon yang tinggi tegar berbunga kecil yang mudah gugur, ibarat gadis angkuh yang mudah patah hati.

"Hush, tidak boleh mencela makhluk Tuhan." Si Mas bilang, "Mungkin kamu memandangnya dari sudut yang berbeda. Bagi saya, flamboyan itu memberi kesejukan. Coba kalau seisi taman dipenuhi mawar. Bagaimana kita bisa duduk sambil berteduh seperti hari ini."

Ah si Mas bisa saja. Biasanya Nur mendebat dengan berbagai argumen. Tapi ujungnya sama saja, si mas akan bilang "Saya kan tidak bilang kalau kamu seperti flamboyan." Biasanya lagi, Nur masih memprotes juga.
"Jadi maumu apa?" tanya si Mas akhirnya.
"Mawar" jawab Nur.
Si Mas akan tertawa. "Mau ngomong mawar kok muter-muter soal flamboyan."

Tapi kali ini Nur tidak berminat untuk bercanda tentang flamboyan dan mawar. Selembar surat bersampul biru mengusik perhatiannya. Sudah belasan kali surat itu ia baca. Masih saja Nur tertegun mengikuti baris demi baris kalimat yang ditulisnya. Ada nafas berat yang dirasakannya dalam isi surat itu.

"Ibarat hari, saya ini sudah hampir senja dik Nur. Bukan saya tidak rela dengan takdir yang Maha Kuasa, namun saya pun sebenarnya ingin menemukan kesempurnaan dien ini dengan menjalankan yang separuhnya lagi. Apalagi sejak bapak dan ibu berpulang, saya tidak lagi mempunyai keluarga tempat kembali. Tiada tempat berbagi, terasa hidup ini seperti luka yang menganga."

Angan Nur melayang membayangkan sosok Kak Nurul di pedalaman, dalam kesendirian, bergulat dengan geliat masyarakat Bangkalan selama sepuluh tahun terakhir ini.

Kak Nurul yang dulu bagai sekuntum mawar merekah, lembut dan harum. Indah tanpa cela. Wanginya tertiup angin hingga ke pelosok kampus dan bilik-bilik masjid. Nur tahu banyak pria yang memandangnya di kejauhan, mengaguminya dalam diam. Bukan sekali dua Nur terheran-heran mengapa para brothers itu tidak ada yang mau menikahinya. Apa salahnya menikahi wanita yang begitu "sempurna". Ataukah mereka hanya berani mengaguminya dari jauh namun takut untuk memetiknya. Takut tertusuk durikah?

Apakah kepintarannya yang menjadi penghalang, konon kaum pria takut menikahi wanita yang lebih cerdas dari dirinya. Ataukah kecantikannya yang dikhawatiri mendatangkan cemburu. Atau karena pribadi agungnya yang membuat para brothers merasa ciut di hadapannya.

Mungkinkah seluruh kelebihan yang bersatu dalam sosok wanita ini membuat para aktivis da'wah pun takut, takut dengan kesempurnaannya. "Barangkali Belum jodohnya, Dik. Insya Allah kalau sudah saatnya ada juga brother yang mau meminangnya." Begitu selalu jawaban mas Fatih, suami Nur. Namun saat yang dinantikan itu belum juga kunjung tiba. Hingga kak Nurul mendapat tawaran untuk membantu masyarakat Bangkalan, sepuluh tahun yang lalu. Iapun pergi meninggalkan kampus tempatnya mengajar. Sejak itulah mereka terpisahkan.

Nur memandangi wajah mas Fatih. Di bawah cahaya senja yang merona, ...ah makin tampan saja ia dengan garis ketuaan yang mulai menggurat di wajahnya.

"Bagaimana mas ?" tanya Nur untuk ketiga kalinya. Wajah yang teduh itu tak bergeming.

"Kau serius agaknya, dik" jawabnya.

"Benar. Saya sudah lama memikirkannya" sahut Nur. "Tapi saya bukan orang yang tepat untuk itu. Saya tidak cukup adil untuk itu."

"Tak ada yang bisa bersikap adil kalau soal perasaan" Nur memotong.

"Secara materi, kau sendiri dan anak-anak pun lebih banyak menahan diri Bukan?" si Mas balik bertanya.

"Saya insya Allah bisa membantumu. Saya bisa mengajar atau kembali seperti dulu." Jawab Nur.

Melihat Nur bersikukuh, mas Fatih melembut, "bagaimana kalau kita istikharah dulu." Diusapnya kain yang menutup rambut indah milik Nur.

Hari-hari pun berlalu dalam kepatuhan mengikuti hukum alam. Malam siang datang silih berganti. Makhluk Allah menapaki hidupnya di bawah naungan sunatuLlah. Susah-senang hilang timbul bak gelombang laut, datang bergulung lalu pecah di pantai. Satu musim lewatlah sudah. Di sebuah dini hari yang bening, Nur berjalan mengendap ke ruang kerja mas Fatih. Lampunya menyala. Berarti semalaman mas Fatih tidak tidur. Lamat-lamat terdengar suara lirih mas Fatih membaca al-Qur'an. Nur beranjak mendekat, namun malang kakinya tersandung kabel lampu. Ugh! Ia jatuh terpelanting. Mas Fatih menghentikan bacaannya.

"Kamu nggak apa-apa dik?" tanya mas Fatih, cemas menghampiri Nur. Yang dihampiri tersenyum menahan malu dan nyeri. "Makanya jangan suka mengintip." Mas Fatih menggodanya, seraya menggosok kaki Nur yang memar. Pipi Nur bersemu dadu saat mas Fatih membantunya duduk di kursi kayu.

Menarik nafas sebentar, lalu Nur membuka percakapan. "Kopornya sudah saya siapkan, Mas. Jangan lupa sampaikan salam saya buat kak Nurul."

Mas Fatih terdiam. Nur memandangi wajah yang senantiasa nampak ikhlas ini. Mas Fatih tersenyum lembut.

"Dik, semoga pengorbananmu yang mulia ini membawamu ke tempat terbaik di sisi-Nya. Tolong doakan agar mas mampu berbuat adil terhadapmu dan anak-anak."

Mata Nur membasah. "Terhadap kak Nurul juga...," ujarnya. "Saya rela mas, janganlah khawatir. Saya tahu tidak semua wanita beruntung seperti saya, hidup di sisi orang sebaikmu." Nur berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, "Membagi kemurahan Allah tidak akan mengurangi rahmat-Nya."

Hari itu mas Fatih akan berangkat menuju Bangkalan. Dengan air mata menggenang, diciumnya kedua anaknya.

"Ayah akan kembali dalam seminggu. Jaga Bunda baik-baik." pesan mas Fatih kepada kedua balitanya yang masih terlena dibuai mimpi. Nur memberi isyarat dengan tangannya.

"Jangan janjikan mereka dengan sesuatu yang sulit bagimu untuk memenuhinya." ujarnya setengah berbisik.

"Saya akan memenuhinya, insya Allah" mas Fatih berbalik, menggenggam tangan Nur. Nur berjalan mengantarnya hingga pagar rumah.

"Jaga diri baik-baik ya dik," pesan mas Fatih.

"Mas juga." Jawab Nur. Tersenyum dengan sepenuh kerelaan hatinya.

Angin pagi memainkan pucuk-pucuk pinus, melambaikan salam perpisahan untuk gelap malam. Mentari menyeruak, mengirim kehangatan di pagi yang beku. Nur membuka hari baru dengan hati ringan. Segumpal rasa cemas dihalaunya dengan kepasrahan. Kedua buah hatinya menjadi penghibur saat sunyi terasa menggigit. Celoteh mereka saat bermain mengusir galau yang kadang menyelinap di relung hati kecilnya. Dan lagi, merawat kedua bocah ciliknya sudah cukup menyibukkannya. Anak adalah hiburan, ia adalah cahaya mata. Nur bersyukur atas karunia yang tidak setiap perempuan merasakannya. Lalu hari pun terasa beranjak dalam tempo cepat, tiba-tiba sore sudah menjelang. Malam kembali datang menggantikan siang. Gelap menyelimuti bumi saat hamba Tuhan melepas penatnya.

Dan Nur kembali termenung ketika anak-anak mulai terlelap. Semoga segala sesuatunya berjalan lancar, Nur membatin. Tidak mudah berhadapan dengan kondisi masyarakat yang belum siap menerima poligami. Anggapan sebagai langkah tercela dan penghalalan bagi kaum pria yang mengumbar nafsu sudah kadung meresap dalam pikiran masyarakat. Bukan salah mereka. Kenyataannya lelaki yang beristeri lebih dari satu adalah kebanyakan mereka yang kurang bertanggung jawab, kalau bukan para pejabat yang menyeleweng. Akibatnya banyak isteri yang tersia-sia, menderita di bawah tanggung jawab seorang lelaki. Jadilah hukum Allah yang satu ini dianggap tidak relevan dan melukai kaum wanita. Benarkah begitu? Lalu berapa banyak wanita malang yang tersaruk-saruk mencari pendamping sementara ratio laki-laki makin mengecil saja.

Apa yang akan terjadi bila solusi menjadi sebuah mimpi buruk di benak kaum hawa. Kak Nurul hanyalah sebuah contoh dari ribuan kasus serupa. Dan Nur merasa itu berada di dalam jangkauannya. Nur teringat pertama kali bertemu kak Nurul. Perkenalan itu bermula setelah kuliah PAI yang menghebohkan di semester pertama.

Nur sendiri sudah mendengar banyak tentang kak Nurul, assisten Farmakologi yang jelita, mantan mahasiswi teladan yang agamis dan segudang predikat top lainnya. Sementara Nur baru nongol di Universitas.

Ketika itu dalam sebuah kelas PAI, Pak RN (semoga Allah merahmati beliau), menguraikan tentang dasar-dasar syariat Islam. Dalam satu kesempatan diskusi terlontarlah pertanyaan tentang poligami. Dengan sigap Nur mengacungkan jari memberikan suara persetujuan. Suasana mendadak hening. Karena Nur duduk paling depan, ia belum sadar apa yang terjadi. Waktu Ia rasakan kesenyapan ini lain dari biasanya, mulailah Nur mengintip kiri-kanan dan belakang.

Sadarlah Nur kalau dari enam puluh mahasiswa yang mengikuti kuliah PAI ini dialah satu-satunya yang menyetujui poligami. Aduh mak, grogi bercampur bingung ketika itu, namun Nur tetap berusaha tegar.

Buntut dari peristiwa tersebut mudah ditebak, Nur pun jadi bulan-bulanan kawan-kawan. Di antara para cowok mulai menggoda kalau-kalau Nur mau jadi isteri keduanya. Yang mahasiswi tidak kalah sewotnya, dikatakan bahwa ia heartless, tidak punya perasaan, ngomong begitu karena belum kawin, coba kalau sudah menikah, dan masih banyak lagi bantahan mereka.

Nur sendiri berusaha untuk tetap bersikap tenang, ia katakan kalaupun mereka tidak setuju, itu tidak akan menghapus ta'addud sebagai bagian dari syariat Islam.

Peristiwa heboh itu rupanya membawa berkah tersendiri. Karuan saja kak Nurul mendatangi Nur.

"Rupanya kita punya nama panggilan yang sama ya dik," sapanya ketika memulai perkenalan.

Nur hanya terdiam. Dalam hati, malu rasanya membandingkan diri nya dengan wanita dewasa di depan nya ini. Namun kemudian terjadilah apa yang telah terjadi. Nur dan kak Nurul menjadi sepasang sahabat yang akrab. Usia bukanlah hambatan, diskusi demi diskusi tetap hidup dengan jalinan persaudaraan yang penuh makna. Di bawah pancaran cahaya fajar maupun di keremangan sinar bulan dalam tetesan air wudlu dan lantunan ayat-ayat suci, Nur merasa hidup ini begitu berarti.

Menjelang pernikahan Nur dengan mas Fatih, Nur memberanikan diri bertanya "Mengapa kak Nurul belum menikah. Bukankah usia kak Nurul lebih dari cukup?", hari itu bertepatan dengan tiga puluh tahun usia kak Nurul.

"Jangan tanya saya, dik Nur. Siapa yang tidak ingin membangun surga di istana kecilnya."

Dan kisah malang itu sungguh terjadi. Satu demi satu brothers mundur teratur lantaran silau berhadapan dengan kak Nurul. Padahal, kurang bagaimana tawadlunya kak Nurul. Sementara itu usia kak Nurul terus beranjak, para kader muda lebih suka memilih bunga yang bisa dipetik pagi hari. Kini, siapa yang masih teringat mawar indah di senja hari. Usia kak Nurul mulai melewati empat puluh tahun. Di Bangkalan sana, ia membaktikan ilmu dan tenaganya untuk masyarakat papa. Sendiri tanpa sesiapa. Salahkah Nur bila ingin membagi kebahagiaannya dengan kak Nurul?

"... Maukah kak Nurul menjadi kakak Nur di dunia dan akhirat?" itu adalah pertanyaan Nur di suratnya beberapa bulan yang lalu ketika mas Fatih akhirnya menyerah pada perjuangan Nur. Lama tak berbalas, hingga akhirnya jawaban didapat juga dari surat kak Nurul bulan lalu.

"... Bagaimanakah mungkin saya menolak permintaan dari seorang adik yang berhati mulia. Sebenarnya ada yang tidak dik Nur ketahui setelah beberapa waktu berselang ini, namun saya sepenuhnya tawakal..."

Surat terakhir kak Nurul itu ditangkapnya sebagai persetujuan. Maka berangkatlah mas Fatih pagi itu menuju Bangkalan.

*****

Subuh baru saja usai. Nur bersegera melipat rukuhnya ketika bel pintu berdentang, tergopoh ia berjalan ke arah pintu. Tiba-tiba di dadanya berdebur gelombang. Seperti saat mula pertama ia bertemu mas Fatih di rumah cinta mereka. Hari ini tepat seminggu mas Fatih berangkat. Iakah yang datang memenuhi janjinya kepada buah hati mereka? Tiba-tiba mata Nur basah. Inikah yang namanya haru? Ataukah cinta yang tumbuh di puncak kerelaan? Pintu terkuak. Benar. Dia mas Fatih. Tapi mengapa ia nampak tidak biasa. Ataukah Nur yang tiba-tiba jadi perasa. Seakan wajah mas Fatih berselimut duka. Nur ingin merangkulnya, namun terasa tangannya tertahan. Mas Fatih mengucapkan salam dengan perlahan. Nur membalasnya tak kalah pelan.

"Mas datang untuk saya atau anak-anak?" Nur mencoba menggoda, mencairkan kebekuan.

"Untuk kita" jawab mas Fatih. Tersenyum, namun berat terasa di dada Nur. Mas Fatih menggandeng tangan Nur. "Boleh masuk, dik?" kali ini ia yang menggoda. Nur mencolek pinggang mas Fatih, ditariknya masuk ke dalam rumah. Nur tidak berani membuka pertanyaan tentang kak Nurul.

"Saya akan ceritakan setelah mandi dan shalat subuh." Mas Fatih seakan mengetahui isi hati Nur.

Nur hanya mengangguk sebelum beranjak ke dapur meraih secangkir teh manis buat mas Fatih.

*****

"Ketika saya tiba di ujung desa." Mas Fatih memulai ceritanya. "Ratusan penduduk berbondong-bondong ke arah tempat tinggal kak Nurul. Saya tidak menduga kalau mereka menyambut saya, saya merasa tidak pantas mendapat sambutan semeriah itu. Namun hati saya bertanya-tanya apa mungkin kak Nurul telah menceritakan rencana pernikahannya kepada masyarakat di sana...?" mas Fatih berhenti sejenak. Nur menahan nafas.

"Saat saya tiba di rumah kak Nurul yang sederhana, barulah saya menyadari wajah-wajah yang hadir menampakkan kedukaan. Sayapun bertanya apakah bisa bertemu dengan kak Nurul. Sebagian yang hadir nampak marah, salah seorang menarik kerah baju saya sambil mengepalkan tinju, untunglah dilerai oleh seorang bapak yang arif yang ternyata adalah pak lurah. Ia bertanya siapa saya dan ada perlu apa dengan kak Nurul. Saya katakan bahwa saya datang dari jauh untuk menikah dengannya. Saya calon pengantinnya. Saat itu terdengar tangis keras beberapa ibu. Pak lurah merangkul saya dan tak hentinya menggoyang bahu saya sampai akhirnya saya ditariknya ke dalam rumah. Di tengah ruangan saya dapati sebuah keranda."

Nur tak tahan mendengar cerita mas Fatih. "Keranda siapa? Dimana kak Nurul waktu itu?" pertanyaan Nur memburu. Mas Fatih menggenggam tangan Nur.

"Kak Nurul berada di dalam keranda itu, dik."

"Inna liLlahi wa inna ilaihi rajiun." Jantung Nur serasa terhenti sesaat.

Nur tersentak. Batin Nur terguncang hebat. Lalu Nur tersedu. Mas Fatih mengusap kepalanya dengan air mata menitik. "Sabarlah dik sabar."

"Apa yang telah terjadi?" tanya Nur disela isaknya.

"Ada yang tidak kita ketahui tentang kak Nurul." mas Fatih menjelaskan.

Tiba-tiba Nur teringat isi surat terakhir kak Nurul.

"... Sebenarnya ada yang tidak dik Nur ketahui setelah beberapa waktu berselang ini. Namun saya sepenuhnya tawakal..."

Nur teringat kalimat yang ditulis kak Nurul itu. Ia terkesiap. "Apa yang tidak kita ketahui mas?" tanyanya.

Mas Fatih menunduk. Jemarinya menghapus ujung sajadah yang terlipat. "Seorang perawat di puskesmas bercerita kepada pak lurah kalau kak Nurul sudah lama mengidap kanker stadium akhir, Nur, sudah metastase kemana-mana."

"Ya Allah Saya tidak pernah tahu." suara Nur bergetar.

"Tidak ada yang tahu, Nur, hingga menjelang kepergiannya kecuali perawat yang membantu kak Nur di klinik. Saya ikut mengantar dan menguburkan jenazah kak Nurul. Selepas itu saya menyelesaikan beberapa urusan kak Nurul di sana.

Saya juga pergi ke Surabaya ke tempat dokter yang mendiagnosis kak Nur dengan kanker payudara sejak lima tahun yang lalu." Lunglai terasa tubuh Nur.

"Kita terlambat, mas. Saya telah melalaikannya." Nur seakan menyesali diri.

Mas Fatih membelai kepala Nur dengan lembut.

"Tidak, sayang. Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Insya Allah niat kita telah dicatat di buku-Nya." ujar mas Fatih. "Semoga Allah membalas amal shalih kak Nurul dengan sebaik-baiknya. Masyarakat Bangkalan mencintai kak Nurul karena keikhlasannya membantu mereka." Mas Fatih berhenti sejenak. Dirogohnya secarik kertas dari kantung tas pinggangnya.

"Ini ada surat dari mbak Ririn, perawat itu."

Nur membuka surat yang diberikan mas Fatih, "Salam hormat untuk keluarga Bu Nurul. Ia adalah jiwa yang berbahagia."

Air mata Nur berhamburan. Ia kehilangan mawar senja yang hampir dipetiknya di pekarangan cinta mereka. Sang Pencipta telah menyuntingnya di taman surga abadi.

Mawar senja gugur kelopaknya, wangi tersisa di pagi bening, sesosok cinta menebar air surga kembali ke bumi, menuju Dia yang abadi...

Dalam duka, hati Nur penuh doa. Semoga tempatmu terbaik di sisi-Nya, kak Nurul. (kotasantri)

posted by kangmasanom @ 11:48 PM   |
Monday, August 16, 2004
bantal

KARAKTERISTIK BANTAL

Tahukah anda watak kita dapat dikenali melalui cara kita menggunakan bantal sewaktu tidur? Terdapat beberapa ketegori bantal dan perwatakan:

1) Memeluk Bantal
Mereka yang suka memeluk bantal biasanya berjiwa seni. Mereka mempunyai penghargaan yang tinggi terhadap lukisan, muzik dan sastera. Perasaan mereka halus dan jiwa mereka romantik. Kadangkala ada yang boleh membaca peristiwa yg akan berlaku melalui mimpi. Mereka juga sangat prihatin terhadap kesusilaan.
2) Menggunakan Banyak Bantal
Mereka biasanya kurang keyakinan. Dalam kehidupan seharian mereka memerlukan banyak pendamping. Mereka jarang membuat keputusan sendiri, sebaliknya mendapatkan pandangan orang lain.
3) Tidur Dengan Satu Bantal
Mereka bukan jenis mengada-ngada dan boleh menerima keadaan seadanya. Mereka juga membuat keputusan berdasarkan fikiran dan bukan nafsu semata-mata.
4) Meletakkan Bantal Di Bawah Kaki
Mrk mempunyai sifat kurang baik. Mereka jarang bergaul dengan orang ramai, malah kaku dalam pergaulan. Ini menyebabkan mereka cenderung bersifat egois. Mereka juga gemar menempuh jalan pintas untuk mencapai cita-cita. Mereka tidak suka berusaha.
5) Tidur tanpa Bantal
Mrk memiliki sifat percaya diri yang sangat tinggi. Kadangkala sifat percaya diri ini akhirnya akan membawa kepada sifat ego.
6) Tidak punya bantal;Kasian deh lo..
7) Nemu bantal;Beruntung deh lo...
8) Tidur gigit bantal.;Kelaparan deh lo...
9) Tidur sambil lempar bantal.;Kesurupan setan..
10) Tidur di dalam bantal.:Mati konyol....


posted by kangmasanom @ 2:11 AM   |
Sunday, August 15, 2004
surat buat tersayang
Kepada:
Yang Tersayang

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ukhti tersayang,

Surat ini khusus buatmu saja.

Sebuah ungkapan hati yang selama ini kupendam jauh didalam lubuk hati.

Ukhti,

Tahukah engkau,
Ada rasa hormat di diri ini, bahkan untuk sekedar menatap wajahmu. Rasanya tak pantas untuk kulakukan itu, karena cahaya Ilahi yang memancar itu terlalu kuat untuk dapat kupandang. Takut hati ini akan getaran yang menyiksa .......

Ukhti sayang,

Sejujurnya ....
Ada semangat yang kau alirkan dalam hari-hariku lewat akhlaqmu yang terkadang menyindir kelemahan dan keluh kesahku. Semangatmu terkadang jauh diatas apa yang bisa dilakukan oleh diri ini.

Ukhti,
Bergetar hati ini,

Setiap namamu disebutkan, atau terpampang dalam sebuah susunan kegiatan amal sholih. Seolah tak habis waktumu untuk korbankan sesuatu bagi kemaslahatan ummat dan kaummu.

Bangga itu menggelegak,

Ketika dengan lancar kau lafadzkan ayat-ayat suci. Ketika namamu menjadi referensi ilmu teman-teman sejawatmu.

Ukhti sholihat,
Kusering membayangkan,

Sambil tersenyum ....
Beberapa bocah kecil berlari riang di sekelilingmu. Bercanda bergelayutan di kerudung panjangmu.

Tiba-tiba seorang diantara mereka terjatuh, wajahnya meringis memegang lututnya. Tangisnya hampir meledak, ketika dengan cepat tanganmu membelai rambutnya yang tertutup jilbab merah muda berenda hasil tanganmu. Sang anak lupa sakitnya, langsung meloncat riang dalam dekapanmu, diiringi teriakan cemburu kakak-kakaknya. Secarik senyuman sekejap menghiasi wajahmu.

Ukhti pujaan,...
Kusering mendamba,
Bercerita tentang lelah diri ini berjuang dalam kalimatNya.

Dengan seksama kau dengar, sambil merapikan beberapa baju taqwa hadiah dari santri-santri binaanmu untukku.

Usaiku bercerita, kau tatap diriku. Lirih tapi pasti kau utarakan janji Allah kepada tentara-tentaranya. Lembut, kau marahi keluh kesah diri ini.

Semangat itu kembali hadir. Lemah itu telah kau buang entah kemana.

Yang tinggal hanyalah aliran harapan untuk bertemu lagi nanti dalam keabadian janji Allah.

Ukhti sayang,
Izinkan diri ini untuk tetap berdo’a pada Pemilikmu.
Izinkan diri ini untuk tetap meminta pada Perancangmu.



Robbana Hablana min Azwajina wa Dzuriyatina Qurrata ‘aiyun waj-alna lil Muttaqiina Imama.



Amin Ya Robbil ‘Alamin.



Ukhti,

Surat ini kutulis untukmu,

Dan hanya untukMu ...


posted by kangmasanom @ 1:49 AM   |
Saturday, August 14, 2004
kebenaran
Kebenaran

kamu benar,bahwa malam tak selalu hitam dan pagi tak selalu merah
Tetapi aku juga benar bahwa matahari akan menjemput bulan ketika elang pulang ke sarang
maka tak harus bersitegang kata
sebab, kebenaran selalu kita bangun bersama
diatas saling percaya
dan rasa saling punya
sebab,bulan malam pagi matahari saling mengisi dan saling melengkapi


Kesetiaan

dan kita pernah sepakat menjemput matahari diujung cakrawala
tetapi langkahmu terantuk bintang
yang jatuh saat bulan paruh gelap
aku hanya bisa berucap
kesetiaan adalah batas anatara mimpi dan kenyatan


posted by kangmasanom @ 11:47 PM   |
Friday, August 13, 2004
redup matamu

redup matamu
mendinginkan kata yang kurangkai sejak kemarin lusa
di batas kesabaran
redup matamu
menyeka luka yang menganga
dibatas penantian
redup matamu
menghapus duka yang tersisa
di batas harapan
redup matamu
mengurai simpul masal yaang terentang
dibatas perjalanan
redup matamu
mengamit kepasrahan di batas pendakian

posted by kangmasanom @ 6:58 AM   |
Wednesday, August 11, 2004
membencimu

Kalau saja aku dapat membencimu
buat apa aku mencintaimu
kalau saja aku dapat menyakitimu
buat apa aku menyanyangimu
kalau saja aku dapat sembunyi
buat apa aku selalu disampingmu
kalau saja aku dapat berjalan sendiri
buat apa aku menantimu
kalau saja aku dapat mebunuh sepi
buat apa aku merindukanmu
kalau saja aku dapat menutup diri
buat apa aku sudi kau mengajak diriku
jadi ,biarkan semunya begini

posted by kangmasanom @ 7:05 AM   |
tersibuk

Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil pusing akan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s


Siapakah orang yang manis senyumannya ?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia berkata " Inna lillahi wainna illaihi rajiuun" Lalu sambil berkata," Ya Rabbi Aku ridha dengan ketentuanMu ini."


Siapakah orang yang kaya ?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.


Siapakah orang yang miskin ?
Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada senantiasa menumpuk-numpukan harta.


Siapakah orang yang rugi ?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebajikan.


Siapakah orang yang cantik ?
Orang yang cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.


Siapakah orang yang memiliki rumah yang paling luas ?
Orang yang memiliki rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebajikan di mana kuburnya akan diperluaskan ke mana mata memandang.


Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi menghimpit ?
Orang yang memiliki rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal amal kebajikan lalu kuburnya menghimpitnya.


Siapakah orang yang mempunyai akal ?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.


Siapakah orang yang bijak ?
Orang yang bijak adalah orang yang mau mengajak kerabat-kerabatnya, teman temannya masuk kedalam surga dengan senantiasa mengingatkannya dan mengajaknya untuk sama-sama berbuat kebajikan dan mengumpulkan amal amalnya selama hidup di dunia.


posted by kangmasanom @ 12:26 AM   |
Tuesday, August 10, 2004
menatap

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur? Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm... kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh kita ketika bayi itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.

Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya. Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.

Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar. Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata : "betapa lelahnya aku hari ini". Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita. Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita. Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka.

Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua. Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka -orang-orang terkasih itu- tak lagi membuka matanya, selamanya

posted by kangmasanom @ 5:42 AM   |
Monday, August 09, 2004
mengeluh

: Ada orang yang mengeluh, kenapa ya kok saya dilahirkan sebagai anaknya orang miskin, sehingga sekarang saya miskin, saya tidak sekolah, saya tidak bisa merasakan fasilitas-fasilitas yang ada karena saya tidak cukup kaya untuk mendapatkannya. Ada yang mengeluh karena ia lahir sebagai anak cacat, atau buruk rupa, atau kekurangan-kekurangan lain sebagai manusia normal.

Ada juga orang yang sebenarnya memiliki banyak kelebihan dibanding orang lainnya, tetapi ia masih saja mengeluh, sedih, merasa tidak bahagia, karena ia memang memiliki harapan selangit dan tidak bisa mencapainya, sehingga ia terus disiksa oleh harapan yang tidak kunjung diraihnya itu.
Inilah orang yang tertipu, lalai, lena, terhijab dirinya dari rahasia Allah, tertutup pendangannya dari keadilan Allah, tidak bisa melihat keadilan Allah.

Keadilan Allah terletak pada dijadikannya dunia dengan segala peristiwa yang terjadi diatasnya sebagai realitas semu, tidak sejati. Realitas semu ini didesain sebagai ujian bagi manusia, untuk "ngetes" manusia. Maka segala yang ada, segala yang terjadi, hanyalah ujian belaka. Kondisi jasad kita, kekayaan, asesoris, status sosial, kehormatan, atribut, … adalah ujian.

Kaya atau miskin hakikatnya sama, sama-sama ujian. Perbedaannya hanya terletak pada bagaimana kita memberikan respon terhadap semua ujian itu. Dan uniknya dunia ini memang terletak pada keragaman keadaan manusia, setiap orang memiliki ujian-ujian masing-masing, sehingga kehidupan menjadi dinamis, tidak statis, tidak monoton, seni kehidupan yang merupakan kreasi Maha Tinggi dari Allah Yang Serba Maha. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang pejabat, ada yang rakyat, ada petani, nelayan, gelandangan, pengungsi, menteri, pengusaha, politikus, kyai, … tetapi hakikatnya semua sama, sama-sama sedang diuji dengan realitas-realitas masing-masing yang menyertai hidup manusia.

Sungguh, kemuliaan manusia tidak terdapat pada kekayaannya, kegagahannya, kemewahannya, "kebahagiaan"nya di dunia. Semua itu hanya ujian hidup. Semua itu bukan kesejatian. Kesejatian ada di akhirat sana, di hari akhir kelak, di saat dimana tidak ada pertolongan melainkan pertolongan Allah. Boleh jadi, ada orang yang hidup senang berlimpah kemewahan di dunia, kita sangka itu kemuliaan, padahal boleh jadi malah itu yang akan mengantarkan kita pada kehinaan di akhirat kelak karena kita lupa diri selama di dunia. Dan boleh jadi kita sangka seseorang itu miskin, hina di dunia, sengsara hidupnya, tetapi ia menjadi manusia mulia di sisi Allah, bahagia diakhirat kelak. Ia mulia, bukan karena kemewahan, bukan sebab kegagahan, tetapi karena ia lulus ujian selama di dunia

posted by kangmasanom @ 5:42 AM   |
Sunday, August 08, 2004
mungil

tubuh mungil
menadah tangan
di balik kaca jendela kuda besi
tanpa kata
matanya hampa
tanpa asa
(bukan mauku,tapi nasib meyuratku;tiada orang yang mengaku sebagai bapakku)

posted by kangmasanom @ 10:47 AM   |
Saturday, August 07, 2004
gadis kecil

Gadis kecil
berbaju lusuh basah kuyup
bertudung payung
menyeruak
di hujan rinai yang tak kunjung usai
menyelinap diatara mobil mobil kilap
berdiri di tepi lobi mal bergengsi
matanya sayu berharap
seseorang memangilnya

Seorang perempuan paruh baya
berbedak dan bergincu tebal
berdandan bak toko berjalan
meneteng tas tangan dan telepon genggam
berdiri di sisi gadis kecil berbaju lusuh
sebuah mobil kilap berhenti
pintu dibuka,menelan si toko berjalan

dan
gadis kecil itu bergumam
Tuhan,apa yang harus emak makan

posted by kangmasanom @ 6:51 AM   |
Friday, August 06, 2004
memikirkan

Seiring hilangnya senja, aku tetap memikirkan tentang keberadaanmu. Entah mengapa diri ini demikian merindui dirimu. Diantara hamparan padang impian yang terbentang tak berjarak, hanya dibatasi oleh kedipan mata ini ketika terlelap.

Saat ini kuakhiri lagi rutinitas yang amat melelahkan. Kuberdoa selalu kepada-Nya semoga semua ini bisa mengantarkanku padamu yang kini terdampar diatas guratan takdirku. Entah kapan Dia akan mengijinkanku jatuh cinta padamu, aku hanya berjalan menapaki garis-garis nasib yang kini mulai membekas menjadi kerutan di dahi.

Oh iya, bagaimana kabarmu malam ini? Semoga rembulan di luar sana bisa menyaksikan kita yang saling merindu. Malam ini ketika kupandangi dia, pasti engkau juga sedang menatap lekat sang ratu malam. Percayalah, disisiku kini hanya ada segenggang harapan tentangmu yang selalu kupegang tak kan pernah kulepas.

Apakah ada yang mencoba menggodamu? Pasti ada, syetan tak kan pernah membiarkan seorang mukminah berjalan sendirian. Keadaanku disini sama, mungkin lebih parah. Semoga engkau tidak akan pernah merasa cemburu, karena memang belum saatnya. Sekali lagi, percayalah kepada Allah bahwa dia hanya akan mempertemukan engkau untukku.

Entahlah apa perasaan ini sudah pada tempatnya ataukah salah alamat. Aku hanya bisa meyakini satu hal, nurani itu tak kan pernah akan berdusta. Aku yang disini dan engkau yang sedang tertegun di sana pasti menginginkan pertemuan nanti hanya Dia yang mengatur. Tidak akan ada orang ketiga, keempat. Hanya ada Dia diantara kita. karena segala macam hubungan pasti akan berakhir kecuali hubungan karena Dia.

Kita sama-sama berlindung dan berdoa kepada Allah, semoga Dia bisa melebihkan kesabaran kepada kita.


posted by kangmasanom @ 1:29 AM   |
Thursday, August 05, 2004
titipan


Sering kali aku berkata;"ketika orang memuji milikku";
bahwa semua ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan-Nya,
bahwa rumahku hanya titipan-Nya,
bahwa hartaku hanya titipan-Nya,

Tetapi kenapa aku tak pernah bertanya,
mengapa DIA menitipkannya padaku
untuk apa DIA menitipkan ini padaku
dan kalau bukan milikku
apa yang harusku lakukan untuk milik-NYA ini?
mengapa hatiku justru merasa berat,
ketika titipanitu diminta kembali ole-NYA?

Ketika diminta kembali;
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan pangilan apa saja untuk melukiskan itu adalah derita,

Ketikaku berdoa;
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua derita hukuman bagiku,

Seolah keadilan dan kasih-NYA bagiku harus berjalan seperti matematika;
aku rajin ibadah,
maka selayaknya derita menjauh dariku
dan
nikmat dunia kerap menghampiriku
kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih,
kumita Dia membalas perilaku baikku,
dan menolak keputusan-NYA yang tak sesuai keinginanku,
Ya..Alloh.. padahal tiap hari kuberucap;
hidup dan matiku hanya untuk beribadah.

Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja






posted by kangmasanom @ 1:33 AM   |
Wednesday, August 04, 2004
waktu

waktu
terus berlalu
saksi segala yang terjadi
yang tumbuh yang luruh
yang lahir yang berakhir
yang bahagia yang duka
yang kasih yang tersisi
yang bercinta yang merana
yang merdeka yang terpenjara
yang
terbebas
dari bingkai waktu
cuma DIA yang tanpa awal tanpa akhir



Ya.Alloh semoga aku lebih ingin menghibur dari pada dihibur;
memahami dari pada di pahami;
Mencintai dari pada dicintai;
Sebab dengan memberi aku menerima;
Dengan memaafkan aku dimaafkan;
Dengan cinta aku bangkit kembali
posted by kangmasanom @ 7:22 AM   |
puisi

kutulis puisi saat bulan pekat
karena puisiku nyanyian semesta
yang berkisah antara angan dan kenyataan

kutulis puisi lara
karena puisiku nyanyian rindu
yang mengubah duka menjadi tawa

kutulis puisisaat sepi
karena puisiku nyanyian hati
yang membasuh benci dengan matahari

kutulis puisi saat gembira
karena puisiku nyanyian bersama
yang hadir dalam parodi dan canda

posted by kangmasanom @ 3:13 AM   |
Tuesday, August 03, 2004
sholat wajib

SHOLAT WAJIB DAK SECH?...


Pernah ada sebuah email untukku : isinya sangat serius tentang pertanyaan pertanyaan yang hampir seluruhnya menjadi bahan pemikiran aku selama ini.Pertanya-pertanyaan ini sebenarnya sangat monohok:sebenarnya sholat itu wajib dak sech?.Boleh dak saya jamak sholat sesuka hati,maksudnya tanpa ada alasan bebergian(safar) atau hujan(Mathar).

Aku menjawab;bahwa dalam Islam itu memiliki banyak katagori.Ada yang wajib(harus)sunnah(dianjurkan)makruh(dibenci)dan ada juga yang haram(dilarang).ISlam juga mengajarkan tentang waktu waktu sholat yang dibagi menjadi pagi(subuh)siang(zuhur)sore(asar)petang(magrib)malam(isyah).Katagori diatas sepenuhnya adalah katagorisasi fikih.para Fukala yang membuat bagian bagian waktu dan bilangan bilangan shoalat semacam itu.Para fukalah pula yang menkatagorikan sholat menjadi wajib,sunnah,dan makruh.Istilah Istilah teknis ini dikembangkan Ulama pada abad ke dua dan ketiga hijriyah.

Namun demikian sholat bukanlah urusan fikih semata,sebagai aktivitasubudiyah,sholat tak adakaitanya dengan fikih.Ia lebih dekat dengan tasyawuf yang lebih menekankan dimensi spiritual atau dimensi esoteris manusia.Inti dari pada sholat bukanlah menjadi bilangan (dua ,tiga ,empat dan seterusnya)dan bukan pula waktu (subuh,zuhur,asar,magrib.isyah)Sholat yang selalu menghitungkan bilangan,seperti dikatakan Nabi adalah sholat seorang pedagang.
Inti dari sholat adalah kedekatan hubungan antara manusia dengan Alloh SWT.sholat merupakan alat bantu(agency)manusia untuk merefleksikan kesadaran akan keberadaan Alloh SWT .

Setiap indifidu mendapat efek kesadaran yang berbeda-beda dari sholat yang dijalaninya.Yang paling bagus adalah Orang yang mampu menciptakan sholat itu pada dirinya sendiri,sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran dimana Alloh SWT tak perlu dipancing untuk sealu hadir.Wallahu a;alam.

posted by kangmasanom @ 1:26 AM   |
Monday, August 02, 2004
anak tv
ANAK TELEVISI

Setiap hari kami saksikan kesadisan di luar logika,
juga pertikaian yang tak selesai
diiringi goyang bor patah-patah,
gosip para selebriti
serta gentayangan para hantu
setiap jamnya

Kami larut dalam kisah cinta
anak sekolah berseragam putih merah
putih biru dan putih abu-abu
sambil menertawakan si yoyo, cecep,
sin chan dan bidadari,
lalu sibuk mendukung bintang baru lewat sms

Dari pagi sampai malam
kami menghapal televisi
kami cerna kelicikan, darah,
goyangan dan semua jenis hantu
sambil mendebukan buku-buku

Di sekolah guru bertanya
tentang cita-cita
dan sambil menguap panjang
kami menjawab
Kami ingin jadi orang
paling berguna bagi negeri ini
seperti yang pernah dinasehatkan
orangtua, guru, pejabat, politisi,
ulama dan selebriti kami di televisi



Abdurahman Faiz
(Mei 2004)
posted by kangmasanom @ 11:52 PM   |
Sunday, August 01, 2004
falsafah cinta

Falsafah Cinta



Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab, Mereka yang hanya ingin bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian, Mereka yang mencintainya, menyebutnya takdir.

Allah mengetahui yang terbaik, akan memberi ujian untuk menguji kita, Kadang cinta melukai hati, supaya hikmahnya bisa tertanam dalam. Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan dibaliknya,
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya bahwa Ia mengambil sesuatu, Ia akan memberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu ?

Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa, Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono, Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai, kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.


Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.



Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada. Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius


Perlu kita ketahui bahwa :
Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam waktu sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.


Kebanyakan hal yang indah dalam kehidupan memerlukan waktu yang lama, Dan penantian tidaklah sia-sia. Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal ? iman, keberanian, pengharapan. Penantian menjanjikan satu hal yang tak dapat dibayangkan oleh seorang pun. Pada akhirnya, Allah dengan segala hikmatnya, Meminta kita menunggu karena alasan yang penting

posted by kangmasanom @ 11:14 PM   |
About
Kangmasanom sekarang telah menjadiseorang ayah dan saat ini masih tinggal di Pnk

Mau chating dengan kangmasanom yach mau chatting ya kangmasanom
Acak-acak
Artikel Terbaru
Archives
Shoutbox

Holly Qur'an

Deteksi
Ada online

eXTReMe Tracker miniscu Center